RSS

Tentang Kependidikan dan [Bukan] Guru

03 Mar

ini akan sedikit menyakitkan (insya Allah hanya sedikit)

pernah terbesit dalam benak saya dan mungkin di benak anda juga bahwa jurusan kependidikan adalah jurusan paling sulit. karena jurusan ini adalah jurusan yang harus mampu (1) membuatkan jalan lurus dan hanya mengarah pada satu tujuan, (2) mengajak orang-orang/peserta didik untuk menapaki dan berjalan diatasnya bersama-sama (bukan sebagian), (3) menjaga agar jalan itu tetap bagus, lurus dan menjaga agar pejalanmya tetap berada dijalur yang benar.

ini bukan teknik sipil dengan jalan yang terlihat. ini adalah teknik yang lebih tinggi dari itu. teknik yang hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu yang mampu membuat jalan tak terlihat, dengan hati nurani, membimbing dan mengarahkan peserta didiknya. yang harus mampu bermain dan mengelola karakter pribadi dan karakter orang lain. meluruskan hati dan perilaku yang kurang baik hingga mampu diterima oleh masyarakat. mencetak para generasi muda yang nantinya sebagai tonggak kelangsungan bangsa, disegala aspek.

“bagaimana dengan jurusan keagamaan? mereka juga membimbing umat, mengarahkan dan menjaga agar tetap pada jalur yang lurus?”. oow, beda. jurusan ini juga lebih tinggi dari jurusan keagamaan. karna jurusan keagamaan tidak diminta membuat RPP/Silabus. tidak diminta membuat laporan, tidak perlu bolak-balik ke kantor dinas dan melapor, tidak perlu merancang instrumen kependidikan. tidak perlu membuat evaluasi mingguan, bulanan, pertengahan semester, semesteran, tahunan bahkan 3-4 tahunan. sudah bisa membayangkan kan bagaimana sulitnya jurusan kependidikan itu? saya belum menyebut kata Guru disini. jadi jangan dulu berpikir saya membahas tentang Guru.

mereka yang mengambil jurusan ini sudah barang tentu akan mendedikasikan dirinya dan ilmunya untuk perkembangan pendidikan di daerahnya atau negaranya. namun dengan beratnya beban yang bakal ditanggung olehnya saat lulus, kenapa begitu banyak yang mengambil jurusan ini?

“ini jurusan yang mudah”. mudah dari sisi mana? jika dilihat dari sisi peluang untuk menjadi mahasiswa kependidikan, iya. jurusan ini memang memberikan peluang yang sangat besar. passing grade ditiap universitas juga tidak terlalu tinggi. ini memang benar. tapi dilihat dari statement awal, apakah hal itu mudah? banyak mudah masuk kejurusan ini, tapi untuk lulusan, apakah banyak yang mendedikasikan ilmunya di dunia yang sama?

baik, ada alasan lain? “pengen jadi guru”. terima kasih yang berteriak di pojok sana. saya masih belum membahas masalah Guru disini. tapi coba bayangkan, lulusan kependidikan dalam satu tahun dengan lulusan veteran guru dalam satu tahun masih terlalu jauh perbandingannya. mengabdi sebagai guru tidak cukup untuk menampung para lulusan kependidikan dalam satu tahun. ups, saya mulai membahasnya.

oke saya belum mau membahasnya. coba anda rehat sejenak untuk membaca tulisan ini dan silahkan browsing tentang jurusan kependidikan. banyak yang menyatakan atau mengarahkan isi artikel dari kependidikan dengan “Guru”. bukan saya yang membahas guru, tapi website yang anda kunjungi yang melakukan itu. pertanyaannya, apakah lulusan kependidikan harus jadi Guru? apakah kalau mau mendidik harus jadi Guru? apakah lulusan yang lain dan mengajar tidak boleh disebut sebagai “Guru”? apakah lulusan kependidikan selain dapat gelar S.Pd juga dapat gelar G,Uru? apakah anda ingin saya membahas “Guru”? apakah saya mau membahasa guru? apakah anda penasaran dengan kapan saya membahas “Guru”? apakah cukup?

Jangan paksa saya untuk membahas masalah “Guru”. Guru adalah sesuatu yang terlalu tinggi untuk dibahas. Itu hampir menjamah istilah Nabi. Guru bagi saya bukan profesi, itu adalah pengabdian. Hanya orang-orang tertentu yang mampu disebut sebagai guru. Pilihan untuk mengabdikan diri sebagai guru hanya dimiliki oleh para sufi, menurut saya. Jika kependidikan hanya berkutat pada membuat RPP/Silabus, laporan tiap minggu, bulan, semester, tahun dan beberapa tahun, melaporkan segala perkembangan format instrument dan mengevaluasinya, maka Guru memiliki tanggungjawab, beban dan amanah untuk mendidik, mengajari, membimbing, mengontrol, menjaga, mengayomi, membenarkan, membela, mengarahkan, menegaskan seorang murid dari mulai dia menerimanya hingga dia lulus dan memastikan muridnya nanti menjadi sosok yang tetap berada dijalan yang benar.

Jika banyak yang mencoba untuk menjadi guru, maka mulialah mereka. Dengan segala ilmu dan segala apa yang bermanfaat dari ilmunya. Jadi mohon jangan paksa saya untuk membahas masalah Guru.

Kembali soal kependidikan. Jadi bagi anda yang ingin mengambil jurusan kependidikan, ambil saja. Yang mau mengambil jurusan sipil, ambil saja. Yang mau mengambil jurusan keagamaan, ya ambil saja.

Bahkan yang mau protes tulisan saya, sebentar saya hitung dulu. 1, 2, 3, 4, 5, 6, …N-4, N-3, N-2, N-1. Oke silahkan duduk yang rapi.

*TAXIII!!! anter ke tempat yang tidak ada orang yang cari saya ya? CEPETAAAANNN!!!!

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2015 in Literature, Opinion

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: