RSS

Cah Cilik Ngomong “Kepemimpinan”

07 Jul

Suasana pagi, sekitar jam 9 penghuni desa terutama para remaja yang sudah tidak sekolah dan orang tua melaksanakan aktifitas kesehariannya. Ada yang ke sawah, pabrik, atau pasar untuk berjualan. Tapi suasana desa tidak sepi. Para bocah menggantikan posisi mereka untuk meramaikan desa dengan bermain setelah ibu-ibu mereka membersihkan halaman rumah. Hari minggu. Jadi tidah ada sekolah. Sekelompok bocah berkumpul. Yang laki-laki bermain kelereng, dan yang perempuan asik bermain loncat tali dari karet.

Ilham, keturunan Medan berkulit putih, rambut cepak lagi berkonsentrasi menembakkan kelerengnya ke arah kelereng Samidi yang berkaos oblong kebesaran dan celana pendek. Saking besarnya kaos yang dipakai, celana pendeknya hampir tidak kelihatan. Nampaknya itu adalah kaos bapaknya yang sudah tidak dipakai. “Ham, lama banget? Udah, gak bakal kena!” ceracau Samidi yang lama menunggu giliran Ilham. “bentar dong. Lagi konsentrasi, nich!” nampak dari raut wajahnya yang kelihatan ngotot.

“Daku kan mesti memperhitungkan jarak, sudut, berat benda dan berapa newton tenaga yang mesti daku kasih ke kelereng ini” jelasnya kayak Einstein.

“mau pake’ rumus E=MC2 ato apa, kek. Kalo udah gak bisa, ya gak bisa aja” lanjut Samidi menanggapi.

Lama berkonsentrasi, akhirnya ia mendapatkan sudut dan tenaga yang tepat untuk menembak. Satu tarikan nafas, tatap mata mengarah tajam pada kelereng Samidi, tanaga dikumpukkan, dan… BUKK. Gebukan tangan mendarat pas dipunggung Ilham. Kelereng terlempar jauh. “SIALAAAN…! Siapa sich?” bentak Ilham marah. “hihihi, sori. Cuma mau nyapa doang. Aku nggak tahu kalo kamu lagi mau nembak kelereng” jawab Aisyah enteng. Aisyah. Gadis berjilbab nan ayu, manis dan berpenampilan sopan. “lagi asik nich rupanya? Boleh gabung dong?”. “kau anak cewek mau ikutan main ginian? Main loncat tali aja lah kau sama cewek-cewek lainnya?” jawab Ilham yang sedikit meredam marah karena melihat wajah ayu Aisyah. “aku kan pakai mexi. Jadi gak bisa loncat-loncat. Ya udah dech. Aku lihat aja”. “woy, aku juga ikut dong” teriak Deni. Anak berkacamata bundar. Matanya memang minus. Parah. Sekitar minus 3. Jadi kalau diperhatikan dia seperti profesor cilik.

Pemainan mereka mulai. Satu lobang disiapkan sebagai pusatnya. Mereka harus melempar kelereng mereka sedekat mungkin pada lubang itu. Siapa yang paling dekat. dia yang berhak mulai duluan. Di tengah permainan, dari jauh Joko berlari sambil memegangi gulungan sarung yang ia kenakan. Joko bertubuh kurus tapi berotot, dengan kulit warna coklat tua. Kalau dilihat-lihat, dia memang pantas dibilang anak desa tulen. Di berlari mendekati anak-anak yang sedang bermain kelereng. Nafas ia atur kembali. Anak-anak yang lain memperhatikan wajahnya yang kelihatan pucat kehabisan nafas. “Komari menang. Dia jadi gubernur kita”. Kalimat itu keluar sangat cepat setelah dia susah payah mengumpulkan nafasnya. “udah? Cuma itu?” tanya Aisyah heran. “nggak ada kerjaan lain apa sampai-sampai kamu capek-capek berlari cuma bilang gitu doang?” tambah Samidi merendahkan.

“Sebenarnya bukan cuma itu gue sampek belain lari. Gue cuma mau tanya, napa, ya, kok banyak banget orang berebut jadi pemimpin? Kan repot. Apalagi seJatim. Jadi ketua kelas keroco-keroco kayak loe-loe di sekolah aja mati-matian. Apa lagi mimpin orang sejatim”. Kosakata loe-gue dia dapat karena tiap hari kerjaannya nongkrong di depan TV. Harapan jalan-jalan ke kota tidak kesampaian akhirnya sebagai ganti, bahasa orang kota pun ia pakai. Anak ini memang persis seperti bapaknya yang sukanya bertanya hal-hal yang menurutnya menarik dan tidak ia ketahui. “ya iyalah. Masak ya iya donk? Sepak aja bola bukannya bodong. Jadi orang penting kan dapet uang banyak. Dari kerja jujurnya dapet, dari kerja ‘part time’ juga dapet” jawab Samidi mengkritisi para pemimpin.

“emang kemaren bapakmu pilih apa, Sam?” tanya Joko.

“milih apa?” tanya Samidi kurang mengerti.

“PILGUB Jatim kemaren” tegasnya.

“Oo, bapakku pilih Kusmiati. Alasannya sich enteng. Kalo dari dulu yang mimpin laki-laki, kali ini bapak pengen dipimpin ama yang perempuan. Kali aja enak. Gitu” jelasnaya enteng banget.

“Emang mau ngapain kau tanya gitu segala? Kita kan masih kecil” tanya Ilham.

“hehehe, gini ceritanya. Gue tadi be’ol trus inget bapak yang kebingungan cari kartu pemilihan kemaren. Ditambah tadi aku denger berita kalo si Komari udah jadi Gubernur. Tapi intinya sich gara-gara be’ol” jawabnya dengan wajah-wajah malu. Hahahaha,… semua tertawa.

“kalau loe, Ham? Keluarga loe udah tercantum jadi warga Jatim kan?” tanya Deni. “sudah. Bapakku milih Komari. Daku sich setuju aja. Kan orangnya nampak bijaksana dan berwibawa” jawabnya. “giliran kamu tuch” kata Deni memberitahu Ilham giliran main. Deni meneruskan “jangan terpengaruh ama raut wajah yang kelihatan bijaksana atau keibuan. Semua bisa menipu. Kan udah banyak para petinggi yang terpilih ternyata membelot. Janjinya aja yang setinggi gunung Himalaya. Tapi implementasinya, puh… sekecil semut. Semua hanya omong kosong”. Sekalinya Deni ngomong, semua temannya langsung tertarik dengan gaya bicaranya yang meyakinkan. Deni heran dengan lagak teman-temannya yang keheranan. “Kalian kenapa? Kok kayaknya heran gitu? Gak ada yang aneh kan? Dari dulu sejarah Indonesia emang kayak gitu. Tapi untungnya pada awal-awal kepemimpinan mereka baik. Dan gencar-gencarnya pergi ke sana-sini. Jadi bisa seimbang gitu”.

Permainan kelereng sudah tidak menarik lagi dengan adanya perkataan Deni si kritisi kecil. Ilham yang dapat giliran pun cuma memegangi dan mengusap-usap kelerengnya sampai mengkilap. “kalo gitu, kita turunkan aja sebelum masa jabatannya selesai” usul Samidi. “enak aja ngomong. Emangnya kayak nurunin ketua kelas kita yang blo’on itu?”. “Maksud loe?” sentak Joko tidak terima. “bakal ada bentrok yang luar biasa kalo itu sampek terjadi. Yang dukung petinggi itu kan juga banyak. Tapi asik juga ide kamu. Aku sedikit sepakat” tanpa sadar posisi mereka melingkar seperti sebuah forum. Joko berdiri di sebelah kanan Ilham yang duduk berselonjor PW tanpa beralaskan apapun. Samidi dan Aisyah duduk di atas pembatas bunga yang tidak terlalu tinggi. Dan Deni duduk di atas batu lumayan besar yang ada di sebelah kanan pembatas tepat di sebelah kiri Joko. Terlihat seperti seorang raja yang mau memberi titah.

“terus bapakmu jadi milih siapa, Jok?” tanya Aisyah. “nggak jadi milih gara-gara emak bilang ‘buat apa milih? Apa dengan milih bisa buat kita kaya? Kalo yang tak pilih mau ikut cari rongsokan sama aku dulu, baru aku mau milih dia. Jadi pemimpin itu harus dimulai dari bawah dulu baru ke atas. Bukannya langsung jadi gubernur atau presiden’ trus bapak gue jawab ‘kata pak camat, kita mesti milih. Trus milihnya mesti pak Komari biar dapet uang’ gitu. Akhirnya bapak sama emak debat terus sampek tempat TPSnya tutup”. “ jadi kalo milih pak Komari dapet pesangon, ya?” tanya Samidi “tau gitu bapakku tak minta coblos pak Komari biar ntar uangnya dikasihkan aku. Lumayan buat beli yoyo di pasar”.

“nampaknya nggak cuma pak Komari yang sebar duit. Daku kemaren jumpa bapak kau pulang dari nyoblos bawa amplop” jelas Ilham.

“wah, mesti minta jatah uang tambahan nich. Aku kan kemaren ikut bapak ke lapangan pas ada kampanye”.

“nah, itu yang namanya money politik. Nyoblos=duit. Makanya jangan pernah berharap jadi petinggi kalo kalian nggak punya duit tebal di kantong” terang Dani.

“di Indonesia udah nggak ada pemimpin yang jujur dong?” tanya Joko.

“nggak juga” jawab Samidi. “tuch si Obama yang kayak kamu, item, kata orang dia bagus”.

“bukannya itu orang Amerika?”

“iya ta? kirain orang Indonesia. Habisnya rame banget  di sana-sini banyak yang sebut-sebut. Sampek-sampek bapakku yang biasanya cuek masalah gituan malah belain ke warung pas hujan-hujan buat ngobrol masalah Obama doang”

“kata siapa?” tanya Deni merendahkan. “ya iyalah rame. Dia kan pernah tinggal di Indonesia waktu masih keroco kayak kita. Makanya Indonesia ikut-ikutan rame. Dan emang bener dia itu diharapkan oleh hampir semua nyawa di dunia. Bahkan umat muslim juga. Mereka berharap Obama bisa menyelesaikan pertikaian di Palestina dan semua perseteruan di dunia. Bukan dengan jalan senjata. Tapi jalan perdamaian. Tapi kemaren dia berpidato di depan pemimpin Israel dan dengan tegasnya akan membantu Israel khususnya dalam hal mengorek-orek Iran atas dugaan kepemilikan Nuklir, si senjata pemusnah masal. Parahnya, sampek ada ancem-anceman segala sama presiden Iran, Ahmadi Nejad. Baru awal aja udah mau mengecewakan harapan pendukungnya, gimana ntar terusannya?” terusnya.

“loe emang kritikus handal, bro. gue salut. gue kasih acungan jempol. Empat sekaligus” Joko sambil duduk dan menyodorkan jempol tangan dan kakinya.

“biasa aja, choy” sahut Deni

“ni nggak ada yang mau nerusin mainnya nich?” tanya Aisyah. “tak usahlah. Gara-gara Joko si pembawa bingung akhirnya kita terbawa omongannya Deni si Analis”. “tapi hebat lho kalo udah jadi pemimpin. Meski cobaannya besar dan menggiurkan seperti korupsi De eL eL tapi kalo jujur dan udah berhasil, pahalanya mengair. Lagi pula kan udah ada dalilnya tuch, kullukum roin. Wa kullukum masulun ‘ala roiyyatihi. Jadi tiap diri kita adalah pemimpin. Gak usah minder, Jok, kalo kamu di jadiin pemimpin. Dan gak usah nyesel. Pahalanya banyak kok. Nabi Muhammad aja di masa kecil udah jadi pemimpin. Meski cuma memimpin domba-domba, tapi beliau belajar dari situ. Ya, bukan berarti kamu mesti menganggap kami sebagai kambing congek kamu. Kalo boleh berpendapat sich, sebenarnya nggak ada salahnya kita mempercayakan suatu kekuasaan kepada seseorang. Tapi kita sebagai rakyat, tugasnya bukan cuma nyoblos tapi juga mengawasi dan memberitahu kepada pemimpin kita nanti tentang apa yang perlu dilaksanakan dan dibenahi. Kita sebagai penyoblos juga punya tanggungan. Tanggungan kita sebagai pemilih adalah mendukung apa yang baik dan mengingatkan apa yang kurang bisa diterima. Ingat dalil yang apa gitu, pokoknya yang akhirnya titik-titik wa ulil amri minkum. Di situ kita kan kita disuruh buat mematuhi perintah para pemimpin selagi mereka nggak membelot” terang Aisyah sangat panjang seperti ustadzah cilik. Dia banyak mengerti tentang masalah keIslaman dibandingkan teman-temannya yang lain. Meskipun dia masih belum hapal dalilnya dan belum terlalu bisa membedakan mana yang hadits dan mana yang ayat Al-Qur’an.

“lha terus, bapak gue kan gak milih. Masak punya tanggungjawab juga?” tanya Joko.

“ya iyalah. Tetep aja punya. Kita sebagai umat muslim kan udah diajarkan untuk selalu mengingatkan. Innaka anta mudzakkir. Inget, kan? Dan juga, yang nyoblos ataupun nggak, akan bertanggungjawab di akhirat kelak. Kenapa nyoblos ini, dan kenapa sampek nggak nyoblos”.

“pernah ke akhirat kayaknya kau, Non?” canda Ilham.

“nggak. Cuma pernah diajak malaikat aja pas lagi tidur hehehe…”

“gue pulang dulu, bro-bro sekalian. Perut gue mules. Kayaknya mau be’ol lagi” kata joko sambil memegangi perutnya yang melilit.

“mau semedi lagi?” ujar Samidi menyindir.

“asal kamu gak balik bawa permasalahan baru aja nggak masalah” kata Deni melanjutkan.

Waktu berjalan tak terasa. Pelan, pasti, kosisten tak berubah. Jam 12 siang. Penerus bangsa dari desa terpencil pulang ke rumah masing-masing.

 
2 Comments

Posted by on July 7, 2011 in Literature

 

Tags: , , ,

2 responses to “Cah Cilik Ngomong “Kepemimpinan”

  1. guest

    October 22, 2011 at 12:53 am

    mantap pak ceritae….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: