Suasana pagi, sekitar jam 9 penghuni desa terutama para remaja yang sudah tidak sekolah dan orang tua melaksanakan aktifitas kesehariannya. Ada yang ke sawah, pabrik, atau pasar untuk berjualan. Tapi suasana desa tidak sepi. Para bocah menggantikan posisi mereka untuk meramaikan desa dengan bermain setelah ibu-ibu mereka membersihkan halaman rumah. Hari minggu. Jadi tidah ada sekolah. Sekelompok bocah berkumpul. Yang laki-laki bermain kelereng, dan yang perempuan asik bermain loncat tali dari karet.
Ilham, keturunan Medan berkulit putih, rambut cepak lagi berkonsentrasi menembakkan kelerengnya ke arah kelereng Samidi yang berkaos oblong kebesaran dan celana pendek. Saking besarnya kaos yang dipakai, celana pendeknya hampir tidak kelihatan. Nampaknya itu adalah kaos bapaknya yang sudah tidak dipakai. “Ham, lama banget? Udah, gak bakal kena!” ceracau Samidi yang lama menunggu giliran Ilham. “bentar dong. Lagi konsentrasi, nich!” nampak dari raut wajahnya yang kelihatan ngotot.
“Daku kan mesti memperhitungkan jarak, sudut, berat benda dan berapa newton tenaga yang mesti daku kasih ke kelereng ini” jelasnya kayak Einstein.
“mau pake’ rumus E=MC2 ato apa, kek. Kalo udah gak bisa, ya gak bisa aja” lanjut Samidi menanggapi.
Lama berkonsentrasi, akhirnya ia mendapatkan sudut dan tenaga yang tepat untuk menembak. Satu tarikan nafas, tatap mata mengarah tajam pada kelereng Samidi, tanaga dikumpukkan, dan… BUKK. Gebukan tangan mendarat pas dipunggung Ilham. Kelereng terlempar jauh. “SIALAAAN…! Siapa sich?” bentak Ilham marah. “hihihi, sori. Cuma mau nyapa doang. Aku nggak tahu kalo kamu lagi mau nembak kelereng” jawab Aisyah enteng. Aisyah. Gadis berjilbab nan ayu, manis dan berpenampilan sopan. “lagi asik nich rupanya? Boleh gabung dong?”. “kau anak cewek mau ikutan main ginian? Main loncat tali aja lah kau sama cewek-cewek lainnya?” jawab Ilham yang sedikit meredam marah karena melihat wajah ayu Aisyah. “aku kan pakai mexi. Jadi gak bisa loncat-loncat. Ya udah dech. Aku lihat aja”. “woy, aku juga ikut dong” teriak Deni. Anak berkacamata bundar. Matanya memang minus. Parah. Sekitar minus 3. Jadi kalau diperhatikan dia seperti profesor cilik. Read the rest of this entry »